puisi

hari untuk dikenang (78)

-27 mei 2012

ini adalah hari untuk dikenang

saat laju hari ingin kuperlambat

berharap waktu memihak kita

ini adalah hari untuk dikenang

ketika aku belum mau pergi dari

sisi hatimu

ini adalah hari untuk dikenang

ketika maya dan nyata bercampur tanpa permisi

di relung jiwa

semoga masa punya jawab

untuk semua tanya

walau tak bersama

(77)

-26 mei 2012

k

o

s

o

n

g

 

mulai (76)

-25 mei 2012

kumulai hariku dengan puisi

ditemani lagu-lagu kenangan

kumulai hariku dengan kenangan

ditemani secangkir harapan

kumulai hariku dengan harapan

ditemani selapis ragu

kumulai hariku dengan ragu

kuhapus raguku dengan cinta

apa kabar impian? (75)

-24 mei 2012  

kau menyelinap di sela kepulan secangkir susu

antara pagi dan siang

sementara benakku belum berdamai dengan masa depan

kemana kau kan membawaku,

impian?

terlalu banyak tanya kau hadirkan

begitu sedikit jawaban

kuputuskan untuk larut di lautmu

memeluk doa, kerja dan kepasrahan

berdamai dengan masa depan

kata (74)

-23 mei 2012

aku mencintai kata

seperti embun merindu daun di dingin pagi

aku mencintai kata

seperti langit memeluk mentari dluha

aku mencintai kata

seperti jalanan siang, sabar dilintasi deru kehidupan

aku mencintai kata

sedamai senja menyambut kelam

aku mencintai kata

seanggun bulan, tersipu pada malam

aku mencintai kata

seperti aku mencintaimu

rindu (73)

-22 mei 2012

apakah rindu selalu air mata?

ia bersembunyi di balik harap

membuat ilusi dari gambaran kehidupan

tentang kita yang mungkin bersama

dalam abu kenangan kucari namamu

membingkai senyummu di ruang hati

jika esok tak berpihak pada kita

berjanjilah untuk tetap tersenyum

berjanjilah untuk tetap menyimpan namaku dalam benak

karena akupun begitu

padamu

fana (72)

-21 mei 2012

cinta bisa hilang

karena semesta adalah fana

seperti gumam burung-burung ditelan senja

seperti buih direnggut pantai

seperti gunung terlepas magma

hatiku juga

fana

namun tak sefana itu

 

 

kata hati (71)

-19 mei 2012

kata hati adalah misteri

kehendak jiwa untuk mencari makna

jelaga kehidupan bisa menutupinya

namun selau ada setitik cahaya menuju ke sana

kata hati adalah permata

yang terserak di antara puing rutinitas

butir-butir hari (70)

-18 mei 2012  

hari-hari di untaian hidup

seperti tasbih

terlewati tapi mungkin teralami lagi

butir-butir hari

menunggu dalam harap dan cemas

seperti butir-butir doa

siang (69)

-17 mei 2012                                                                          

siang adalah harap bagi masa depan

semoga lelah terbayar karya

dan nanti kita tersenyum bersama

senja (68)

-16 mei 2012

senja adalah tepi

jembatan kini dan kenangan

senja adalah hari, yang masih memanggil walau sudah berlari

senja adalah mentari malu-malu

senja adalah senyum,

adalah gerbang menuju purna

adalah hati

terpukau agungMu

malam (67)

-15 mei 2012

rembulan di hatiku

langit kelabu

bintang tersenyum

ada apa di balik sunyi

ada apa di balik langit

ada apa di balik semesta

langit kelabu

awan tersipu

sabit berselimut

ada apa di balik hidup

ada apa di balik penciptaan

bahkan malaikat pun bertanya

pagi (66)

-15 mei 2012   

mentari sembunyi

langit sepi

kalbu sunyi

mentari khatulistiwa (65)

-14 mei 2012

di bawah mentari kita berdiri

di bawah mentari kita bahagia

di bawah mentari kita menangis

sejarah panjang khatulistiwa

luka

tawa

akankah mentari tersenyum esok hari?

semoga

sudut kota (64)

-13 mei 2012

untuk bandung, garut, tasik dan jogja

 

setiap sudut punya nyawa

setiap petak ada cerita

setiap jalan membentang kenangan

setiap tempat ada kesan

saya berjalan

memori menari

 

damai di persimpangan (63)

-13 mei 2012

memanggil damai dari jiwa

persimpangan masa

langkah ini mau kemana

segudang tanya

selaksa asa

segenggam ragu

mencari damai dalam jiwa

lembar hidup tertulis apa

tinta bahagia

atau mimpi derita

menggali damai dalam jiwa

di persimpangan masa

satu pagi, di dunia kenangan (62)

-untuk darul arqam

pagi itu bintang masih tersisa di langit

saat kami berjalan menuju ilmu

saya masih bertanya tentang masa depan

tak ada jawaban, namun masa itu adalah kenangan

yang menyisakan bahagia jiwa

lewat gelak tawa dan tangis duka

pagi itu bintang masih ada

di hati kami, juga

-11 mei 2012

mimpi (61)

-10 mei 2012

mimpi tawa

mimpi tangis

mimpi sunyi

mimpi hampa

mimpi cinta

mimpi langit

mimpi bumi

mimpi manusia

mimpi dalam mimpi

labirin-labirin kehidupan (60)

-9 mei 2012

semesta dalam labirin

menuju Cinta

semua dalam zikir

menuju Kasih Abadi

setelah hidup mengabdi

mudah-mudahan kami abdi

yang mengucap tahmid di mahsyar

berkahi dan ampuni kami

di perjalanan

menujuMu

lembar-lembar makna (59)

-8 mei 2012

ini adalah lembar-lembar makna

tergores tinta cinta

dari muara terdalam jiwa

raga biarlah menua

tapi sukma mengabadi

dalam puisi, prosa dari hati

generasi ke generasi

lebih tua dari manusia

hujan sela kemarau (58)

-7 mei 2012

nyanyi hujan menyapa bumi

siang semendung sore

hantarkan mimpi sunyi

pada jejak-jejak kesendirian, saya berkaca

seperti sungai merindu muara

seperti hujan merindu akar

serindu itukah saya padaMu?

belum…

namun hujan menjadi pesan

ketaksendirian di kehidupan

bersamaMu

suatu pagi, bersamamu (57)

-6 mei 2012

gerimis mengantar mentari

surya di hati lebih cerah lagi

karena bersamamu

lewati menit-menit yang terlalu cepat berlalu

berjalan bersamamu

ujung jalan ini kemana?

kemudian kubisikkan doa

agar penantian itu tak lama

wahai Sang Penggenggam Cinta

kabulkanlah …

 

cinta di balik jendela (56)

-5 mei 2012

cinta di balik jendela

saat perpisahan tiba

jarak hanya jembatan bagi rasa

ditengahnya selaksa rindu

mengintip di balik cemas

namun cinta selalu kembali

percayalah

(55)

-4 mei 2012

nurani

nyawa bagi sekeping puisi

 

apa yang kita kejar? (54)

-4 mei 2012

langkah-langkah menggebrak pagi

mengejar jalanan

mesin-mesin berteriak

dan kita mengejar mentari yang sama

apa yang kita cari?

kemana kita pergi?

menuju bahagia, tentu

sayang, ia bayang-bayang

karena senyum ada di hati kita

kota (53)

-4 mei 2012

masih ada senyum

sela asap dan derap rutinitas

masih ada nurani

di belantara kota

masih ada damai

menyelinap gelap tuntutan kehidupan

langit biru menuju kelabu

mungkin hujan

 

bahagia (52)

-3 mei 2012

bahagia?

titik damai antara duka dan histeria

bahagia?

raga dan jiwa

bahagia?

kapan saja.

apakah saya bahagia

?

mudah-mudahan

hampir selalu

ya

langkah (51)

-3 mei 2012

hari esok membuatku takut

akankah datang?

apakah membawa tenang?

ataukah sekam?

akhir-akhir ini hati senyap dalam risau

tak bisa begitu. Harus kembali. Kembali.

tersenyumlah pada diri

semoga semesta temani bahagia

simpan tangis dan takut untuk doa saja

karena pada akhirnya,

semua adalah kenangan

jakarta (50)

hujan di jakarta

seperti airmata penghapus lara

angin mengutus damai pada jalanan,

aku membisikkan doa untuk kaum miskin kota

-9 maret 2012

malabar (49)

di antara hijau alam dan lembut kabut

kita berbagi kisah

di antara hijau alam dan lembut kabut

tawamu terdengar sampai hati

di antara hijau alam dan lembut kabut

ku kenal keluargamu lebih dekat

terimakasih untuk sepotong sore ini

ia akan menyemai damai di jiwaku

seperti kenangan-kenangan lain

bersamamu

12/2/2012

embun (48)

aku padamu

seperti daun pada embun di bening pagi itu:

sunyi, damai, satu

16 september 2011

dari ruhani, menuju ruhani (47)

saya menempuh perjalanan

dari ruhani menuju ruhani

melalui jembatan fana

di atas jembatan ini

membentang tanya:

apakah saya bisa menjaga ruhani sefitrah semula?

-4 syawal 1432

mentari, senja ini (46)

16 Mei 2011

matahari menyapa setelah hujan

sering saya bertanya apa dibalik pekat langit

jawabnya adalah cahaya

walau terkadang sulit bagi saya untuk percaya

ada apa di balik air mata

ada senyum ada tawa

walau terkadang terlalu takut untuk optimis,

sisi baik dalam jiwa saya suka berkata

Dia selalu punya jawab untuk setiap tanya

tawa untuk duka

sebagaimana

hujan diikuti cahaya

jalan mungkin masih panjang

tetapi kasihNya selalu ada

saya harus percaya

sore bahagia (45)

28/11/2010

sore ini

sore bahagia

ketika kau tersenyum pada jiwa

sore ini

sore bahagia

ketika kita mengeja cinta

sore ini

sore bahagia

di sini, ramai orang

di luar, ramai hujan

tetapi hati damai

kini

tak perlu lagi ku sembunyi dari rasa bersalah itu

kini

ada hari yang kita tuju

kini

ada jiwamu temani sepi

pada Sang Maha Pengasih

aku berharap ini

abadi

hatimu? (44)

malam ini

aku ingin menulis namamu pada hati

sekali lagi.

binatang malam berbisik padaku

aku berbisik pada sukmaku

mengeja cinta terbata

rindu disini

adakah ia padamu?

malam masih panjang

sepanjang tanyaku tentangmu

tetapi entah kenapa

sebagian dari diriku berkata

aku akan membangun hidup bersamamu

semua kias hilang makna

karena rasa ini apa adanya: hatiku padamu.

hatimu?

kampus, sore terakhir (43)

hujan

dedaun mengangguk seirama

pada bangunan-bangunan itu

di tanah ini

beribu jejakku menuju ilmu

di sini

goresan penaku melukis masa depan

di sini

akhir menuju awal

gerbong (42)

sepuluh menit sudah

di kereta murah

dalam kota

sudah berjejal di sini, namun gerbong belum bergerak jua

di sana

seorang ibu menenangkan tangis bayi

di situ

pak tua menyulut rokoknya yang kedua

di sudut

anak muda terlelap menggenggam surat kabar

seorang pedagang asongan, dengan sopan, memintaku untuk memberi jalan

ya, ya, tak ada tempat lagi

lima belas menit, penumpang berkeringat, menggerutu

dua puluh menit

berangkat

kereta merayap melalui tumpukan rumah-rumah sempit tepi rel

lalu sawah

indah

di dalam, sekelompok remaja bercanda

di pintu

di atap

sekelompok pemuda bercanda dengan nyawa

anak kecil di trotoar (41)

senja menuju pekat

anak kecil duduk di trotoar

apa yang ia pikirkan?

telapak tangan menopang dagu kehidupan

mata menatap jalanan takdir

di tengah lalu lalang orang, seberang pusat perbelanjaan

anak kecil duduk di trotoar

apa yang ia pikirkan?

bahagia, tanpa jika (40)

sore, tiang-tiang listrik anggun melatari pegunungan

aku berjalan

lalu

celoteh riang anak-anak kecil mengisi sisa hari

lalu

sepasang suami istri tersenyum di atas sepeda motor

lalu

alunan suara musik setelah lincah celoteh penyiar

lalu

biru tanpa kelabu

sore ini

aku bahagia

tanpa jika

lalu

senyum seorang tua

lalu

senyum angin

sore ini

aku bahagia

tanpa jika

lalu

naungan langit dan lembut awan

lalu

kedip lampu satu-satu

lalu

kenangan indah berlarian menghampiri

sore ini

aku bahagia

tanpa jika

(07/09/10)

pagi (39)

(14/06/10)

bisik jengkrik temani kabut

hijau damai membentang lembut

capung menari di antara padi

burung melayang riang

ini pagi, petani berdamai dengan ladangnya

aku di sini, dekat alunan sungai kecil, berdamai dengan harapku

langit warna pastel, mentari sembunyi

mimpi masih tertancap jua pada horison itu

laju kendaraan hanya sayup, asa tak pernah kuncup:

semoga

tranquility (38)

di tengah bisik gerimis, mata

dipeluk bentang hijau

damai

sementara dedaun kelapa malu-malu

merunduk

di tengah bisik gerimis, riak

riang kolam bersusulan

bunyi kereta sembunyi di balik mimpi hutan

di tengah bisik gerimis

burung melayang pada rumpun bambu menjulang

aku melayang juga

hatiku

(leles, 30/01/10 )

stasiun (37)

di stasiun,

aku mengunyah kehidupan lagi

di stasiun,

kemesraan pasangan tua mengingatkanku akan cinta

di stasiun,

televisi memutar lagu-lagu lama

di stasiun,

ada wajah-wajah menunggu

di stasiun,

penjaja koran menukar kabar dengan lapar

di stasiun,

ada wajah-wajah tersenyum

di stasiun,

desis diesel menawarkan harapan sementara rel menjanjikanku sebuah tempat yang jauh

di stasiun,

ada wajah-wajah menuju

di stasiun,

nenek penjaja makanan berjalan pelan

di stasiun,

orang-orang menyemut di peron

di stasiun,

ada wajah-wajah berharap

di stasiun,

langit pagi menggigil

di stasiun,

atap tua

di stasiun,

hati damai

(tugu, 24/12/09)

bukan pameran, kan? (36)

23/12/09

tersenyum lintasi hari

apa katamu apa wajahku?

hatiku terkadang biru, tetapi mentari selalu di sana

kebahagiaan bukan sekadar ditampakkan, kan?

ia ada

untuk diresapi …

=)

senyum kala hujan (35)

21/12/09

I

awan kelabu itu bergerak cepat

tergesa, di mataku

mungkin ia hendak bergabung dengan yang lain, mereka yang sedari tadi berkerumun jelang

gerimis

kelabu menjadi latar bagi dedaunan hijau pohon jati

dilihat dari bawah sini, cantik sekali

oh, gerimis itu datang

perlahan, lalu membesar

ditemani angin yang selalu setia

aku tersenyum

II

hujan datang,

bunyi denting

menyapa dari seng dan genting

beberapa pecahan gerimis sampai ke mukaku

suasana ini sepertinya sudah kuhapal

mungkin sama dengan sepotong pagi di pegunungan

atau

malam di sekitar api unggun

magis

manis

aku suka

III

lihat itu

dedaun yang menari setelah lepas dari dahan

lihat itu

dahan yang bergoyang oleh hujan

lihat itu

hujan yang tertawa bersamaku

biru tanpa kelabu (34)

17/12/09

biru tak harus kelabu

warna warni hariku

=)

setelah hujan (33)

08/12/09

cahaya mengintip setelah hujan

angin lembut setelah hening setelah bising

rumput dicumbu daun yang wafat

langit masih menyimpan gelap, tetapi ia lelap

mungkin hujan sekali lagi, malam nanti

pasir yang tersisa (32)

pasir yang tersisa, ikut melihatmu juga:

mentari yang baru sembunyi, tersenyum lebar pada sepenggal pagi

pasir yang tersisa, ikut melihatmu juga:

segaris horison laut dan langit

pasir yang tersisa, ikut melihatmu juga:

gemuruh lembut gelombang berderai pada pantai

pasir yang tersisa, ikut melihatmu juga:

lapang semesta ciptaNya, selapang jiwa

pasir yang tersisa, ikut melihatmu juga:

air yang pecah pada jemari kaki kami

pasir yang tersisa, ikut melihatmu juga:

senyum dan tawa pada wajah-wajah ini

pasir yang tersisa, ikut melihatmu juga:

sebait kenangan dalam puisi kebersamaan

pasir yang tersisa, ikut melihatmu juga:

pagi ini, setitik tinta di lembar hidup kami

-parangtritis, 29/11/09

salamrindu untuk sang junjungan (31)

09/11/09

meretas jarak berabad

tapi engkau kan masih hidup

izinkan aku mendekat … wahai jiwa yang dipuja

bumi dan langit

sedepa demi sedepa

tak apa

sambil menahan malu karena se’dewasa’ ini belum jua kenal engkau …

izinkan aku mendekat

wahai jiwa yang disanjung sang pencipta

agar ribuan langkah tanpa arah

bisa kau temani

terlalu mewah untuk bersamamu di sana

saat maya jadi nyata

tetapi mohon …

aku yang lemah ini diaku ummatmu …

betapa jauh aku

betapa jauh …

dekatkanlah, cinta …

semoga …

02/11/09 (30)

kereta berdetak senyala benak

memandang kerlip cahaya lewat jendela

perjalanan

apa yang dicerna … apa yang diterima …

semisal rel jua

yang terlewat tak tertapak lagi

dingin di sini, seperti di hati

selayak bulan tua yang terbata melangit di sela pijar gemintang

sebuah pondok di tengah sawah

stasiun kecil …

lampu …

lelap …

untuk bidadari, yang tak kutahu siapa (29)

05/10/09

sayang, lipatan kertas ini masih terlipat rapi

di langit tertinggi

aku belum membukanya -sempatkah aku?

sayang, wajahmu masih di balik tirai itu

seperti esok yang tak ku tahu warna detiknya

sayang, padaNya diri lemah ini berharap, agar jemarimu sempat kugenggam

agar senyummu sempat kutatap

agar nyata lapang jiwa

-sempatkah aku?

gemintang merona di bentang malam ini

saat jiwa terbang di atas samudera harap

mungkin

ya

mungkin

tak

tapi kau mengalir bersama detak

sealur nafas

seirama hujan

maka

siapa, dimana, kapan

kah

engkau?

curhat (28)

05/10/09

satu satu

hatiku ini jua, Tuhan

langkahku ini jua, Tuhan

seperti pagi yang nanti -mungkin- hampiri lagi

seperti air, tak henti meretas menuju samudera kehidupan luas

selayak bulan, sedikit pucat, tapi setia

aku jua Tuhan

aku juga

jangan tinggalkan ku di sini

sebelum semua usai

mudahkanlah setitik tinta untuk mengering pada kertas kehidupanku pada

kedamaian hati

ini

semoga nyata

pada hujan, tak bisa aku berharap, karena ia mungkin terik lagi,

pada mentari, ia akan membulan

pada langit, mungkin jelaga dengan mendungnya

maka demi setiap presisi konstelasi yang Engkau anugerahkan pada mayapada

demi bumi yang kau cinta kan pada kami

setitik hamba adalah mudah untukMu Tuhan

tuntun hamba meniti hati hari

PadaMu Tuhan

jika tidak, siapa?

tak.

maka

jangan

(biarkan aku)

pergi

….

12/09/09 (27)

untuk semua kemewahan ini, Tuhan

segengam syukurku hanya abu

tuntunlah jemari lemah ini

pada setiap titi hari

amin

11/09/09 (26)

Tuhan,

hadirkan yang terbaik…

setelah kesendirian ini

amin

27/07/09 (25)

kenangan2 itu menyapa lagi

saat berjalan diantara pelukan hamparan lapang

damai

delalu damai

seembun itu

selembut itu

kembalilah padaku

damai itu…

hening itu…

27/07/09 (24)

menulis apa? apa saja

setitik api, sebelangga gulita (23)

17/04/09

sejumput api di kegelapan

akankah benderang?

tidak

tetapi ia harapan

menelisik di sela sepi yang berbisik

selembar api menari di tengah hutan

“kemana kau pergi ?”

sunyi

ia menyala seolah maya

menyapa mayapada sekitarnya yang gulita

“aku mencari nyala lain” gumamku padanya

api mengangguk anggun, aku tersenyum…

(subang-bandung, 18:45)

senyum (22)

13/04/09

tersenyumlah, katamupadaku padawaktuitu

aku tersenyum?

tanpajudul (21)

13/04/09

menempuh waktu ini

meretas sungai yang ini

menepi, di sepi jalan menanti

kembalikan aku pada arus

saat ingin menjadi nyawa bagi jiwa saat

harap menjelma derap saat

hujan ramah tak resah

bukan

bukan yang ini

bukan, bukan takut, gersang dan lapar ini

hijaukan kembali padanglapang

birukan samudera hati

langit tanpa tepi

pada pagi murni

pada damai

sunyi hati

share your smile (20)

look at the dangerous world

it is time to present love

look at the blind world

it is time to show the way

look at the colorful world

it is time to combine it in harmony

look at the children who cry

it is time to make them laugh loudly

look at the mothers who can not buy any food

it is time to care

look at the fathers who have no job

it is time to share

whatever your color

whatever your folklore

whatever your background

whatever your religion

it is time to share your smile

daun menyapa embun (19)

“apa kabar langit?”

daun menyapa embun

“masih padu dalam konstelasi”

embun tersenyum

“apa kabar bumi?”

“masih begini, tetapi setidaknya kita masih bisa bertemu”

senyum daun tak secerah embun

sebentar lagi fajar dan langit masih bersama mereka

melepas selaksa do’a

ke istana tertinggi Sang Maha Pengasih

rembulan samar, gemintang pudar

embun bernyanyi lirih

bersenandung dengan melodi purnama

beberapa satwa malam mengiktuinya, sebuah orkestrasi terakhir

sebelum pergi terganti pagi

shubuh masih seperti kemarin,

ia memiliki angin dalam, namun

lembut

menyebar dawai-dawai damai

“kemarin teman-temanku pergi lagi”

daun kembali berbisik

“dedaunan tak mati”

embun menjawab

“karena mereka masih di sana, mencumbu tanah yang itu juga,

hanya sebuah jeda panjang”.

“bukan, sobat”

daun membantah

“aku tak khawatir dengan mereka, tetapi teman-temanku yang kemarin dibakar”

“dibakar? oleh siapa? mengapa?

“dibakar? ya

oleh siapa? makhluk berperadaban tertinggi itu

mengapa? entah”

embun menghentikan nyanyian

alam senyap, menunggu

“ceritakan padaku tentang langit”

“untuk apa?”embun bertanya

“tak tahu…tetapi kulihat kau selalu tersenyum indah”

“ya, karena aku adalah cermin dan langit selalu berdzikir dalam milyaran orbitnya”

daun terdiam

embun terdiam

“tetapi…berbahagialah kawan”

“mengapa?” daun bertanya

“tangismu telah sampai ke langit”

“ya, teman” daun mengangguk “aku bahagia di sini,

kami bahagia selalu bersama di sini, aku hanya merisaukan mereka”

“mereka? teman-temanmu?

“bukan, makhluk berperadaban tertinggi itu”

amgin menari, menyela mereka

sebentar lagi akhir pertemuan

“sepertinya saatnnya aku turun”

embun berbisik

“ya, semoga kita bertemu lagi,

kalau sempat, sampaikan salam bagi teman-temanku”

embun mengangguk

dan daun pun melepas embun,

melebur ke lapisan-lapisan tanah yang bertasbih, menyatu akar,

sebelum nanti –mungkin- bersua pada

kali kedua

sebait kenangan yang akan mereka dekap erat-erat dalam benak,

karena ia telah terpatri

dalam segenap relung yang melipat tawa dan air mata

semua kan kembali pada sebuah kerinduan

sayup–sayup panggilan menyapa

satu

dua

riuh

jembatan atas jembatan bawah (18)


pagi mulai terbit di dua jembatan

di atas,

mobil-mobil mengejar angin

mencari segenap hidup yang baru redup

kemarin

di bawah,

mentari pagi adalah akhir

karena pada sepi dini hari mereka telah menggantung diri

mengais lembar demi lembar rezeki

di atas,

wajah-wajah redup

bisa karena eksistensi, materi atau sekedar tidur lagi

di bawah,

wajah-wajah lelah

karena hidup lebih cepat dari mereka, tak jua berhenti

sementara kaki-kaki mereka sudah lemah tertatih melaju

di bawah

sampah dilemparkan setiap hari

menghiasi jalanan

di atas

semua takut sampah,

tak ada sampah

tak ada resah

juga

karena sampah mereka masih tinggal, terbawa di kopor besar.

(tak semua, tentu)

di atas, di bawah

waktu mewabah

puisilama (17)

07/08/06

dari balik kemilau rhine

hijau-biru

dan mentari sedang berkaca

bukan tanpa arti, sayang…

dan perahuku masih laju…

dari atas jembatan, trem mengintip

hijau-kuning

dan langit masih menatap kita dengan mega

anggun

bukan tanpa arti, sayang…

dan perahu kita masih laju…

dari atap bangunan tua

cokelat-merah

burung-burung berhamburan…

jalanan masih sepi

lengang…

dan perahu kita masih laju…

-Basel in imagination

alam dalam malam (16)

malam belum melepas desau angin

sela daun bambu

burung hantu memekik kelelawar tertawa

ini juga arti

rembulan mutiara kerlap-kerlip lampu

berlian

malam ini juga

tempat berbeda

saat mimpi terbang ke pulau itu

gemunung yang angin

pikiranku menelisik juga tentang makna

dewasakah?

entah

tapi selalu ada cita di balik cerita

mungkin juga cinta

(mungkin, tapi)

merenungi lautan, lepas di gelegak ombak

maya, tapi

mendaki bukit imaji, meloncati api

nanti tapi

mungkin tapi

berjalan jua aku

pada pematang, pada ladang, pada

ilalang

sementara rembulan terus berlagu, seperti langit ungu

menyinari jejak-jejak selayak artefak

aku kan sejarah juga

melenggang lagi, angin lagi, api lagi

kereta bersiul, gigil

hening

sebentar lagi fajar membuka tirai

mungkin tapi

ah,

bagi fana

apa sih yang pasti

-naon sih =p

ini pagi, Sukri berhenti sejenak (15)

gerobak lagi, denting mangkuk lagi, bubur lagi

kaki nya telah hafal kemana harus melangkah

mangkuk nya tahu kapan berbunyi

pelanggannya ingat waktu untuk memanggil

pagi ini, pagi biasa

ketika anak-anak itu melewatinya, menyapanya

berseragam merah putih

pagi ini, pagi biasa

tetapi kali ini berbeda

sejenak, sukri berhenti

menatap punggung-punggung mereka yang berlari riang

lalu tanah aspal itu berubah sawah

ingatannya terbang ke ratusan bulan yang lalu

sketika hijau daun masih akrab bercanda

ketika hujan menjadi lagu rindu

ketika angin adalah sahabat

ia lihat anak-anak itu

sekali lagi

lagi

hingga kecil, hilang

dulu, sukri juga begitu

sempat bermain dengan buku

sebelum menukarnya dengan kerja-kerja kaku

sampai kini

masih

ah, mungkin bukan dia, mungkin anaknya

lalu teringat kemarin si bungsu berkata:

“pak, spp enam bulan…”

ah, mungkin anaknya

ia melaju

gerobak lagi, denting mangkuk lagi, bubur lagi

kami adalah udara, kami bernyanyi (14)

kami adalah udara, kami bernyanyi

tangan-tangan kecil bertepuk tangan, meloncat, bersorak

pagi itu, ketika mentari belum terlalu tinggi

kami masuk, merenda semangat, menyulam satu lagi hari ceria

lagu sehari-hari

lalu sang guru masuk

mengaji, berlari, mengaji, berlari, mengaji

kami adalah udara, kami bernyanyi

kami belajar satu-dua halaman kitab suci

sepatah dua alfabet

sepotong kisah

kami mengajari mereka beningnya cahaya

kemurnian jiwa kanak-kanak

dan persahabatan tanpa batas.

kami adalah udara, kami bernyanyi.

“ingin cepat malam, Mak…”(13)

“ingin cepat malam, mak…”

anak itu berkata lusuh

menatap ibunya gamang

angin pagi membawa lari sungai

tepi jiwa yang sepi

ingin cepat malam

agar tubuh kecil-letihnya bisa terbaring pulas

walau beralas kardus berselimut angin

ingin cepat malam

agar jiwanya merasa senyap

sesaat

sebelum besok kembali digebrak rutinitas

ingin cepat malam

agar denting waktu berhenti sejenak

melepas sukma sebelum beristirahat

ibunya menatap kosong

“malam masih lama, nak…”

setapak (12)

jalan menuju matahari

saat sinar masih sepi

jalan ini membelah dua hijau

sampai tanah harapan

diatasnya, jejak langkah petani

kiri-kanan nya hasil peluh

awalnya harap

akhirnya semai

tanah permai

veteran, kereta & istana (11)

seorang tua berjalan pagi-pagi,

tegap langkahnya samarkan

usia

kereta kosong, karena 17 agustus tentu

ia naik, melihat lewat kaca

bendera-bendera di tiang besi dan kayu

puluhan tahun lalu ia di sana, rumah kecil itu ketika

sejarah bertinta

tertatih ia turun, naik kendaraan lagi sampai istana

sesampai di sana ia lihat teman-temannya

ia tanyakan juga pertanyaan biasa;

“sudah punya rumah?”

temannya tertawa semu, ia mengerti

acara berjalan, pagi kibar, sore turun

kembali lagi, kereta lagi

rumah petaknya lagi

ia tersenyum dan berbisik: ” selamat malam istanaku…”

bagendit (10)

setengah senja…

lembut itu… sebentar lagi gelap

namun pendar masih silau dalam pukau

bersama perahu laju

ribuan pohon seberang alunan air,

menatapku

melambai damai yang lama tak tersemai

dan

kaca-kaca beriak memantulkan semburat malu-malu

dari mentari yang sebentar lagi sunyi

“aku masih ingin di sini”

berbisik pada langit tentang warna hati

“aku masih ingin di sini”

membelai angin sore, entah kapan lagi

“aku masih ingin di sini”

hingga gelegak sepi air menelan hari

tanahku… (9)

semburat jingga

langit memaknai

awan menaungi

mentari pergi

khatulistiwa tersenyum

khatulistiwa menangis

horison biru

tanah beku

satu-satu

jerit pilu

riak tawa

bersatu

tanahku…

dari jendela, sebelum tidur… (8)

angin membawa api

pergi setelah air

kemarin

malam gulita juga

gemintang terdiam

berkelindan seperti untaian mutiara

bening

rembulan sepi juga

sunyi yang meranggas

menepikan pesan perlahan

satu kisah lagi

sebelum dibalut mimpi

“selamat tidur…”

langit berbisik

mata terpejam

embun, dini hari… (7)

terjaga…

ketika embun memeluk dini hari

malam berbisik

angin mengusik

terjaga…

ketika sukma dibelai maya

mendentingkan sunyi di titi hati

terjaga…

ketika jiwa tertunduk ke arah

alas kehidupan yang memadat

kering

bangkit

membasuh raga dengan jiwa sepenuh

(dari jauh, rembulan melepas senyum terindah)

bersimpuh pada sajadah kealpaan

melepas seikat harapan, mimpi

pergi

ke lapis langit tertinggi

biar menepi segala

sepi

sirna semua alpa

luruh semesta keluh

pada siapa lagi menadah tangan ini

selain pada

kemahaindahan Mu

mencairlah

beku

kaku

kelu

bisu

kalbu

pada siapa lagi menyerah kalah

selain pada

kemahakuatan Mu

enyahlah

bimbang

gersang

hadirlah terang

pada siapa lagi menggantung harap

selain pada

kemahakasihsayang Mu

melipat ragu

pada sayup ayat suci yang dilafalkan

pada lembut bilangan—bilangan dzikir

pada tangis doa…

puisi cinta (6)

aku mencintaimu lewat sudut hati

seperti ini

mungkin tak seperti lagu-lagu

sendu

tapi namamu terlipat di semak benak

di tengah ilalang-ilalang imaji yang mengaji

seperti mentari, kadang redup

namun selalu terbit lagi

atau seperti malam yang memelukku damai

mungkin tak seperti burung-burung

itu

berbaris rapi pada lintasan langit pagi

tapi rasa ini menyapa

ia ada

menyelusup diam-diam

mengakar

walau baru kukirim padamu lewat

kata tak terucap

makna tak tertulis

dan huruf-huruf yang mengabu

mengertikah?

oh, kulihat pendar itu juga menyapa matamu

semoga tak sekadar maya

karena penantian ini lama tak jemu

seolah ada yang berbicara

tapi siapa?

tidak kau

tidak aku

mungkin bukan kini,

tapi suatu hari

semoga

menangkap sekeping hujan (4, 5)

saat itu hujan menari ritmis

aku berjalan menuju kereta

kereta

sunyi

kucari sekeping

hidup

cahaya

kini kuberdiri pada kereta yang sama

dengan kenangan yang memadat dalam benak

berjalan

berbicara

sendiri

imajinasi

visi

aksi

juga ide-ide yang menggila

lalu aku terbang menuju langit

tuk menyentuh awan

menangkap sekeping

hujan

pagi … hati … (3)

Kupu masih mencumbu lagu saat pagi menatap

hari

dan langit disapa angin

bayangku maya pada jalanan lengang

sukmaku nyata pada jiwa lapang

aku … dan sang biru lembut membentang jauh

aku … dan barisan tiang-tiang lampu masih menyala

aku … dan hawa menyiramkan segarnya kabut

aku… dan alam sayup-sayup berlagu

aku … dan wangi bunga menyapa jiwa

(sepi …

Sepeda terus kukayuh, mencari keajaiban

makna)

Pagi adalah energi

agar siang tak slalu menjelma resah

pagi adalah sunyi

agar siang tak bising deru

pagi adalah

warna

my life (2)

hidup …

hari-hari adalah seni

kala detik terpetik

menikmati perjuangan damai

sendu

kan ku ubah jadi merdu lagu

sunyi …

kan menjelma arti

Rabbi … rembulan di hatiku … sempurnalah …

agar syukur meresapi agung

kalbu

gita awal fitri (1)

jingga menyelusup sela gelap

pegunungan

barisan makhluk langit

lintasi….bagai garis

angkasa putih merona

sesaat..

dan lafadz-lafadz langit sayup-sayup

dinaikkan

saat mega mengarak tirai fitri

izinkan maafku terucap,

walau tak sefasih salahku

9 thoughts on “puisi

  1. sama-sama, mister ^^
    iya, mister masih inget? doain supaya aku lulus ya, sir! hehehe
    lagi blog-surfing nyari puisi, eh ketemu. aku suka puisi soalnya :) )

  2. hehehe nuhun mister :)
    aku suka yg gerbong, ingin cepat malam, Mak terus…daun menyapa embun n..jembatan atas jembatan bawah. semuanya bagus sih jadi terinspirasi bkin puisi lagi hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s