Kesetaraan Digital

http://gigadom.files.wordpress.com/2011/12/eick_internet.gif?w=487&h=436

Di mana kita bisa mendapatkan kesetaraan di dunia ini? Jawabannya relatif, namun kita bisa melirik beberapa negara Skandinavia yang memilki akar sosialisme yang kuat seperti Denmark, Findlandia dan Norwegia. Di negara-negara tersebut peran negara sangat besar untuk menjadi penyeimbang ekonomi pasar yang jika tak terkendali terkadang menyuruh kita saling mangsa. Di sana pajak begitu tinggi tetapi warga negaranya bisa menikmati akses infrastruktur, pendidikan berkualitas dari pra TK hingga universitas, dan layanan kesehatan universal. Semua gratis karena dibiayai negara dari pajak (jadi sebenarnya dari warga negara juga). Tak heran jika kesenjangan hampir tak terasa dan mereka makmur dilihat dari statistik manapun: GDP, HDI, index Gini.

Di negeri kita? Tentu saja belum (jangan berhenti berharap =). Akan tetapi ada fenomena menarik yang saya cermati di negeri ini di masa internet: kesetaraan digital. [Ngomong-ngomong, istilah kesetaraan digital ini kalau kita cari di google belum ada, jadi saya bisa ngarep menjadi penemu istilah...hehe...]. Salah satu contohnya adalah banyak layanan gratis di internet tempat kita bisa membuat akun, termasuk di blog dan jejaring sosial. Blog dan jejaring sosial bisa menjadi media alternatif yang berpusat pada jurnalisme warga. Ketika media mainstream seperti televisi dan koran semakin seragam karena pemiliknya yang itu-itu saja, blog dan jurnalisme sosial bisa menjadi alternatif arus informasi dan opini yang lebih independen. Bahkan siapa tahu di masa datang internet dengan jurnalisme warganya lah yang akan menjadi media mainstream. Saya pikir hal ini akan mendorong kesetaraan dalam pemberitaan, dimana warga tak hanya sebagai konsumen berita dan opini tetapi juga menjadi produsen.

Di internet pula sekat-sekat kelas sosial bisa mulai pudar. Bukan fenomena aneh jika saat ini warga bisa saling berinteraksi dengan pejabat publik lewat akses twitter misalnya. Sesuatu yang mungkin tak terpikirkan belasan tahun lalu: memotong rantai protokoler, meringkas jarak sosial.   

Saya memikirkan satu hal lagi yang bisa dilakukan di era internet ini: kampanye. Kampanye lewat internet akan merubah banyak hal. Pertama (dan paling utama), kampanye lewat internet jauh lebih murah dibanding kampanye konvensional (baligo, iklan koran apalagi televisi). Biaya politik yang lebih murah akan memunculkan banyak efek positif. Kita bisa berharap bahwa biaya politik yang lebih murah ini akan semakin mengurangi korupsi. Logikanya, jika biaya politik sangat besar seperti sekarang, akan semakin besar pula peluang untuk mencari “keuntungan” di luar gaji karena gaji memang sangat jauh di bawah biaya politik yang sudah di keluarkan. Mudah-mudahan pula semakin banyak “orang-orang baik” yang selama ini berjuang di bidang akademis masuk ke ranah politik. Selama ini, salah satu kesulitan tebesar “orang-orang baik” ini masuk ke ranah politik adalah biaya politik yang besar.    

Selain itu, kampanye digital ini juga akan membuat calon pemimpin lebih mudah menjelaskan program-programnya secara tertulis dengan lebih terarah dan spesifik, lebih baik ketimbang pidato di tengah ribuan masa dengan pentas dangdut. Fitur interaktif di internet juga memungkinkan dialog calon pemimpin-pemilih, antar calon pemimpin maupun antar pemilih menjadi lebih hidup.

Mudah-mudahan lembaga think-tank seperti Pusat Penelitian Politik LIPI memikirkan hal ini dan membuat solusi aplikatif untuk kampanye digital.

Masih ada satu hal yang perlu dipikirkan: kesetaraan akses internet. Ini bagian kemkominfo dengan BUMN seperti Telkom. Tantangannya adalah menyebarkan akses internet ke pelosok nusantara tanpa melupakan edukasi penggunaannya.   

Mudah-mudahan mimpi kesetaraan digital bisa segera tercapai dan menyebar menjadi kesetaraan di banyak bidang. Sehingga sila “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” tak menjadi yatim piatu seperti kata Buya Syafii Maarif.

 

sumbergambar: http://gigadom.wordpress.com/tag/internet/

 

 

Bahagia

http://organikganesha.files.wordpress.com/2009/10/happy-feet.jpg?w=584

Jika ada kata yang paling banyak dicari di dunia ini, mungkin itu adalah bahagia. Semua berlari menujunya, semua ingin bahagia.

Apakah bahagia itu?

Begitu kompleks pembahasan bahagia ini, sehingga Maslow membaginya menjadi beberapa tingkatan. Kali ini saya tak hendak membahas Maslow, juga tak bisa membahas semua dimensi kebahagiaan karena saya memang tak tahu. Saya hanya teringat sebuah bagian yang (mungkin) penting dan sering terlupakan dalam kebahagiaan: perbandingan.

Kita ambil contoh saja. Dulu, saya pernah tidak betah di sekolah. Kegiatan asrama dan sekolah yang padat menjadi salah satu alasan. Hampir setiap hari gelisah, sampai suatu saat saya terpikir sesuatu: tak semua orang bisa sekolah.

Waktu itu saya sedang di bus Bandung-Garut, kembali ke pesantren setelah libur. Sekitar sebelum Leles, di daerah yang masih bertebing dan berpohon banyak, naik seorang pengamen kecil. Setelah mengamen ia tak langsung turun namun duduk di kursi belakang, tepat sebelah saya. Dari obrolan singkat dengan anak itu saya jadi tahu bahwa ia sangat ingin sekolah namun tak mampu.

Saya jadi berpikir kalau kesempatan sekolah, yang diberikan Allah pada saya, saya berikan pada anak itu tentu ia akan sangat bahagia. Lalu kenapa saya yang sudah mendapat nikmat sekolah ini masih tidak bahagia sementara banyak anak di luar sana yang rindu sekolah dan tak bisa meraihnya?

Ketika saya membandingkan keadaan saya dengan anak itu, timbulah rasa syukur. Dan itulah bahagia.

Ketika kita jenuh bekerja, ada baiknya kalau kita ingat banyak orang yang masih belum bisa dapat kerja padahal mereka sangat ingin. Saat jenuh kuliah, ingatlah baru beberapa persen penduduk bangsa ini yang bisa mencicipi bangku kuliah dan menjadi sarjana.

Selalu ada keadaan yang lebih buruk, dan kita bisa bersyukur karena itu tak terjadi.

Maka, penerimaan akan kondisi saat ini adalah sesuatu yang bermanfaat. Lalu bagaimana dengan kemajuan, bukankah kita harus memperbaiki keadaan? Benar, tetapi saya pikir perbaikan yang dimulai dari rasa syukur akan lebih baik ketimbang perbaikan yang dimulai dengan keluh.

Tentu saja ada saat-saat lemah, mengeluh dan jenuh. Wajar, karena kita bukan malaikat. Akan tetapi, dengan siapa/ dengan apa kita membandingkan kehidupan akan sangat memengaruhi kebahagiaan jiwa. Perbandingan yang tepat pada akhirnya (mudah-mudahan) akan melahirkan rasa syukur. Sebagaimana kita ketahui, rasa syukur ini adalah tulang punggung kebahagiaan.

Seperti biasa, tulisan ini sekaligus nasihat bagi diri sendiri.

sumber gambar: http://organikganesha.com/2009/10/05/rahasia-kebahagiaan/happy-feet/

Labirin-Labirin Kehidupan

http://ibadsoul.files.wordpress.com/2012/05/liku-liku-labirin-menuju-ta.jpg?w=273

Masa depan adalah sesuatu yang tak jelas. Karena itulah seringkali ia mendatangkan pertanyaan, bahkan ketakutan. Kita tak tahu apa yang akan menghadapi kita nanti, apakah kebaikan atau keburukan. Seringkali ketika kita menoleh ke arah kenangan, sepertinya semua tak seburuk yang kita sangka, dan bisa belalu juga. Akan tetapi di saat kita berdiri di masa kini, masa depan tetap saja menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan.

Ketika kita melewati gang yang belum pernah kita lewati, tentu kita kebingungan kemana gang itu akan berujung. Kita belum tahu apa yang akan menghadapi kita di depan saat kita melewati labirin-labirin itu. Apakah akan ada peminta-minta, orang-orang ramah, orang-orang kasar? Bahkan kita tak tahu kapan akan sampai tujuan. Lebih jauh lagi, mungkin kita juga belum tahu tujuan kita kemana. Pada saat-saat seperti itu, tentu akan sangat membantu jika kita bertanya pada orang-orang yang ada di sana, pada mereka yang telah lebih dulu tahu.

Mungkin kehidupan juga seperti itu. Akan sangat membingungkan dan menakutkan untuk melewati labirin-labirin kehidupan tanpa pandu. Pandu itu bisa saja buku, guru, alam, manusia, semua bentangan ciptaan Tuhan yang memancarkan tanda. Sepertinya yang dibutuhkan adalah kepekaan hati, imaji, akal dan raga untuk menyerap semua menjadi inspirasi dan menerjemahkannya kedalam aksi, tanpa melupakan refleksi secara berkala. Karena aksi tanpa refleksi adalah sebuah ironi: kita akan terus menerus berputar di labirin-labirin kehidupan tanpa sampai ke tujuan, karena kita tak tahu hendak kemana. Begitupun refleksi tanpa aksi: ia takkan membawa kita ke mana-mana.

Di atas semua itu, selayaknya kita tak melupakan pandu terbaik sepanjang masa: Tuhan. Dia adalah pusat segala. Dia maha mengetahui setiap labirin kehidupan setiap manusia yang bermilyar ini, yang hanya debu di labirin semesta. Tuhan adalah tempat kita bertanya arah dalam menempuh perjalanan. TanpaNya mungkin kita akan tersesat dan letih dalam labirin-labirin kehidupan yang kita tak tahu ujung pangkalnya.

Lebih baik lagi kalau kita tak sekadar bertanya pada Tuhan, tetapi menuju Tuhan.

Karena Tuhan adalah titik pusat dari segala, maka serumit apapun labirin kehidupan kita, kita tak akan tersesat jika kita memang berniat dan berusaha menujuNya.

Tulisan ini sekaligus nasihat untuk diri sendiri.

sumber gambar: http://jejak-sangmanyar.blogspot.com/2012/02/labirin-pagi.html

Cinta di Balik Jendela

http://static3.travelandleisure.com/images/amexpub/0011/2113/201003-ss-train-mountaineer.jpg

Senja menuju malam di stasiun kereta.

Saat itu saya masih kuliah, tengah menunggu kereta dalam kota menuju rumah. Kereta tiba masih cukup lama, saya pun asyik memerhatikan suasana sekeliling. Stasiun selalu ramai, penuh lalu lalang orang. Sesaat kemudian terdengar pengumuman bahwa sebuah rangkaian kereta antar kota akan segera diberangkatkan, disusul bunyi bel khas stasiun yang lazim terdengar menjelang keberangkatan.

Beberapa menit kemudian peluit dibunyikan, kereta mulai bergerak perlahan. Di pintu yang terbuka (dan itu tak lazim karena kereta yang berangkat adalah kereta eksekutif), seorang lelaki berdiri, memandang ke arah wanita yang menggendong bayi. Wanita itu menggerakan tangan si bayi, melambai ke arah si Bapak yang terus berdiri di sana hingga kereta lenyap di pandangan.

Pemandangan seperti itu biasa ditemui di stasiun namun entah kenapa pada waktu itu ada sesuatu yang menyentuh perasaan saya. Saya baru menyadari bahwa ada sesuatu yang indah di balik keberangkatan kereta: kehangatan cinta. Keberangkatan itu selalu menghadirkan wajah-wajah di balik jendela yang melemparkan senyum dan lambaian tangan pada mereka yang mengantar di luar, sebelum pergi ke tempat yang jauh.

Ada cinta di balik jendela-jendela itu.

Di balik kehidupan orang-orang besar, ada cinta orang-orang terdekat yang mengantar mereka menuju masa depan. Bagi Bung Hatta, misalnya, salah satu orang itu adalah Mak Etek Ayub Rais, pamannya. Ayub Rais lah yang menanggung kehidupan Hatta saat merantau ke Jakarta untuk bersekolah dan ikut mendukung keberangkatan Hatta ke Rotterdam untuk menimba ilmu Ekonomi.

Bagi Nelson Mandela, cinta yang mengantarnya pada masa depan adalah pengorbanan seorang Ibu yang merelakan Mandela untuk diasuh wali raja bangsa Thembu di Afrika Selatan agar mendapat pendidikan dan masa depan yang baik.

Akan tetapi, masa depan yang gemilang juga menghadirkan dua sisi: ia bisa menguatkan cinta pada keluarga namun bisa juga menghadirkan ironi, menghancurkan cinta itu sendiri. Mungkin kita pernah mendengar kisah suami yang mendapat dukungan dan kasih sayang seorang istri di masa-masa sulit untuk kemudian ditinggal begitu saja ketika sang suami sudah sukses, atau cerita sebagian (tidak semua) selebriti yang tak bisa menolak godaan ketenaran dan uang. Cinta di balik jendela, cinta dan dukungan keluarga, berubah menjadi petaka.

Untungnya, masih banyak contoh kebahagiaan cinta yang bisa kita temui. Bapak kost tempat saya tinggal, misalnya. Dulu ia berjualan minyak tanah, mendorong gerobak minyak tanahnya sendiri. Sekarang, setelah punya rumah besar dan kostan, sejauh yang bisa saya lihat cinta pada keluarganya tak memudar. Di masa tuanya kini Stephen King, raja cerita Thriller yang bukunya terjual jutaan kopi juga masih setia dengan istrinya, Tabitha, yang dinikahinya saat ia masih kuliah. Ia tak melupakan “cinta di balik jendela” isterinya saat ia masih menjadi pekerja kasar di sebuah tempat laundry dan belum bisa menghasilkan banyak dari menulis.

Semua orang punya “cinta di balik jendela” mereka masing-masing. Semoga kita bisa meraih masa depan bahagia dengan cinta itu serta tak melupakan kenyataan bahwa dalam pencapaian kita saat ini dan di masa datang, ada banyak cinta dan doa yang mengantar kita pada pencapaian itu.

sumber gambar: http://www.travelandleisure.com/articles/worlds-most-scenic-train-rides/2

Jejak-Jejak Buku di Hatiku

 

  

Saya mencintai membaca, saya mencintai buku.

Sejak saya masih bayi, Ibu dan Bapak mengajari saya membaca huruf-huruf Latin dan Arab dengan berbagai metode menarik hingga pada usia 4 tahun saya sudah bisa membaca Al-qur’an dan koran. Saya mencintai membaca sejak itu. Setiap sore sepulang dari SD saya mengunjungi rumah Nenek yang masih terletak dalam perumahan yang sama untuk mengaji dan membaca koran. Saya begitu tertarik dengan apa yang terjadi di kota saya, di negara saya dan di seluruh dunia. Saya begitu senang karena bisa mendapati semua itu tertulis di lembar-lembar koran. Pada koran yang sama saya juga mendapati cerita bersambung yang sangat menarik, kisah tentang perempuan dari Gunung Kidul Yogyakarta yang merantau selepas SMA dengan menjadi buruh pabrik di Bandung. Saya menekuni membacanya setiap hari selama berbulan-bulan. Lika-liku kehidupan kelas pekerja begitu apik tersusun dalam cerita bersambung itu.    

Saya mencintai membaca, saya mencintai buku.    

Di Sekolah Dasar ada perpustakaan kecil. Di situ saya biasa meminjam buku-buku bertuliskan “Milik Departemen P & K, tidak diperjualbelikan”. Saya paling senang meminjam buku cerita dan masih ingat beberapa kisah: sekelompok anak yang menggagalkan pencurian kayu di hutan, cerita tentang anak seorang pegawai kecil di Bima, atau cerita tentang persahabatan yang berawal dari sepakbola. Buku-buku itu begitu khas, membekas dan ikut membentuk kepribadian saya. 

Di rumah, Etek (adik ibu saya) yang tinggal serumah dengan nenek juga punya koleksi bacaan. Saya ingat begitu takjub ketika membaca buku cerita tentang pemuda Aljazair yang melawan penjajajahan Prancis, cerita bergambar Sunan Kudus di majalah “Sahabat” dan tulisan-tulisan menarik lainnya di majalah itu, atau buku-buku agama praktis.    

Saya begitu keranjingan membaca hingga mengalami beberapa kejadian unik. Suatu hari sepulang sekolah saya melihat beras yang sedang dijemur di atas nyiru beralas koran di depan rumah tetangga. Saya melihat berita di koran itu cukup menarik hingga saya berhenti beberapa saat untuk membacanya. Keesokan harinya tetangga itu menceritakan apa yang ia lihat pada ibu saya. Tetangga itu bilang aneh sekali saya melihat-lihat beras di depan rumah orang. Kali lain, saya sedang mudik lebaran ke Tasikmalaya. Waktu itu Bapak sedang ada keperluan membeli barang di toko elektronik maka kami pun berangkat ke kota. Ketika Bapak sedang menawar barang, saya melihat koran tergeletak di atas etalase lalu saya pun membacanya. Tiba-tiba pemilik toko merenggut koran itu begitu saja, saya kaget.  

Kesenangan membaca bertambah ketika Nenek mencicil satu set ensiklopedi anak-anak terbitan luar negeri. Buku-buku itu begitu menarik dan mencakup banyak hal: sejarah, sains, dan sastra. Semua itu masih ditambah dengan adanya taman baca yang menyediakan berbagai buku, termasuk “Lima Sekawan” Enid Blyton yang begitu berkesan.

Selepas menamatkan SD, saya melanjutkan pendidikan ke pesantren. Di sana lagi-lagi saya menemukan buku-buku menarik di perpustakaan. Perpustakaan itu tak selalu buka namun kalau sedang buka saya biasanya membaca banyak tulisan tentang negeri-negeri yang jauh dan kehidupan unik di berbagai tempat. Saya merasa senang karena seolah-olah bisa bepergian ke berbagai negara melalui tulisan dan foto-foto yang menarik. Di pondok juga saya mulai mengenal buku-buku “serius” yang saya pinjam dari teman dan dari kelompak diskusi buku. Buku-buku tentang gagasan dan pemikiran yang tak seluruhnya saya mengerti namun toh saya menikmati membacanya.       

Saya lalu kuliah di salah satu PTN di Bandung, mengambil studi Sastra Inggris. Bagi saya, tempat paling nyaman di kampus adalah perpustakaan. Di sana saya menghabiskan waktu memilih buku, duduk membaca di lorong-lorongya (bukan di tempat baca yang sudah disediakan) hingga tak terasa berjam-jam. Saya ingat pernah meminjam buku cerita Taiko edisi lengkap yang sangat tebal (tiga kali kamus Hassan Shadily, mungkin) dari perpustakaan kampus dan selama dua hari bisa dibilang tak melakukan apa-apa karena begitu menikmati menghabiskan buku tersebut. Saya sangat menyukai buku-buku sastra namun pilihan buku di perpustakaan kampus cukup banyak hingga kadang-kadang saya tertarik juga dengan buku-buku sejarah, politik dan ekonomi (tentu saja dengan melewatkan tabel-tabel dan angka-angka yang tak saya mengerti).

Saya mencintai membaca, saya mencintai buku.

Buku dan berbagai tulisan telah mengajarkan banyak hal kepada saya. Ia mendidik saya agar melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang. Buku menuntun saya untuk berani bercita-cita dan menggenggam passion. Buku membimbing saya untuk peka dengan perasaan dan kehidupan orang lain serta membantu saya untuk berpikir dan bertindak positif. Saya begitu berhutang budi kepada buku, tulisan dan para penulis sehingga saya juga ingin ikut menorehkan jejak-jejak buku di jiwa orang lain sebagai salah satu bentuk rasa syukur. Meskipun sedikit, saya mulai menulis.

Saya mencintai membaca, saya mencintai buku. 

 

gambar:http://caterpillarcafe.blogspot.com/2012/03/recommendedreads-happy-world-book-day.html

A Beautiful Diary (novel pertama saya =)

http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/377788_2684329674748_1451552079_2793467_1358106331_n.jpg

alhamdulillah…akhirnya novel pertama saya terbit juga…=)

Apa yang terjadi jika dua orang anak yang berasal dari dua dunia berbeda dipersatukan oleh sebuah buku harian? Hasilnya adalah sebuah narasi kehidupan yang penuh warna, lucu dan haru ketika seorang anak, yang cukup berada namun kesepian dan merindukan sosok Bunda, bertemu dengan seorang anak ceria namun papa. Novel  A Beautiful Diary merangkum kisah mereka dalam kesederhanaan masa kanak-kanak yang memesona, membuat kita lebih memaknai makna kebahagiaan, persahabatan, dan rasa syukur.

judul: a beautiful diary

jenis: novel

halaman: 145

harga: Rp 33 ribu

diterbitkan melalui nulisbuku.com

untuk pemesanan klik di sini =)

Reuni Akbar, Malam Terakhir

http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/250864_2118399560270_1254185449_32625189_5050141_n.jpg

Foto: Kang Oki Lutfi


Hampir pukul sepuluh ketika saya sampai di gerbang DA.

Saat itu malam Minggu, besok pagi agenda reuni akbar adalah penutupan. Sayangnya, karena pekerjaan, saya baru bisa datang malam itu. Beberapa jam sebelumnya saya bahkan masih ragu untuk pergi. Selepas mengajar kelas terakhir pukul setengah tujuh malam, saya berjalan pulang ke kostan di daerah Buahbatu, Bandung. Saat itu hujan cukup besar sehingga saya basah kuyup walaupun jarak dari tempat mengajar ke kostan hanya sepelemparan batu. “Rek naon ka Garut jam sakieu, hujan gede.” Sempat terlintas pikiran itu. “meningan di kostan weh, istirahat.”

Setengah jam kemudian saya berangkat.

Entah apa yang membuat saya tetap ingin berangkat. “Pokoknya harus”, saya berkata pada diri saya sendiri, “harus berangkat”. Beruntung di Cibiru masih ada Elf ke Garut, walaupun penuh dan ngetem lama. Beruntung pula di terminal Guntur saya kebagian angkot terakhir ke Sukadana, sehingga tak perlu naik ojeg dari sana. Beruntung pula beberapa pemuda di perempatan itu, yang baru saja meminta uang kepada sopir truk, tampak ramah ketika saya bilang punten. Setelah berjalan kaki sedikit, sampailah saya.

Gerbang pesantren terbuka lebar, sebuah mobil baru saja keluar. Saya berbelok ke kiri, ingin menyimpan tas dulu di asrama adik saya. Dari jauh terdengar suara musik, mungkin masih banyak orang di depan aula, tetapi di sini sepi. Sambil lalu saya melirik bangunan sederhana yang berhadapan dengan pos satpam. Saya tak tahu fungsi tempat itu sekarang, namun dulu itu adalah kantor pimpinan pondok.

Di tempat itulah saya pertama kali melihat senyum beliau, alm Pak Miskun.

Saya ingat betul, saat itu sore menjelang senja yang mendung, tahun 1999. Saya masih anak kecil yang baru saja lulus SD. Hari itu adalah hari terakhir daftar ulang santri baru dan saya adalah calon santri yang paling telat daftar ulang. Bahkan seorang petugas penerima santri baru berkata kepada Bapak sambil tertawa “Sugan teh moal janten daftarna, Pak”. Sebetulnya, saya dan Bapak berangkat dari pagi, tapi tidak bisa langsung ke Garut karena harus menemui teman-teman Bapak untuk meminjam uang. Bahkan setelah ditambah uang hasil penjualan cincin Ibu saya, uangnya masih belum cukup (saya ingat waktu itu uang daftar ulang satu juta kurang sedikit). Namun apa boleh buat, kami berangkat juga ke Garut. Karena uangnya masih kurang, panitia penerimaan santri baru meminta kami mendatangi pimpinan pondok di kantornya untuk meminta keringanan mencicil sisa pembayaran di kemudian hari.

Dari sekretariat PSB (yang sekarang jadi koperasi), kami menuju kantor beliau. Saat itu benak saya bertanya-tanya, seperti apa sosok pimpinan pesantren ini? Terlebih lagi saya bertanya pada diri sendiri, bagaimana kalau tidak diizinkan? Apakah tidak lebih baik saya ke SMP Negeri saja? Saya teringat sebagian teman-teman SD yang menyayangkan keputusan saya untuk melanjutkan pendidikan di pesantren.

“Kunaon bet asup pasantren? Leubar tah NEM bisa asup SMP anu. ” Teman saya menyebut salah satu SMPN favorit di Kota Bandung. Teman saya yang lain lebih parah lagi, menyebutkan kejelekan-kejelekan pesantren. Saat berjalan ke kantor itu saya mulai berpikir mungkin yang dikatakan teman-teman saya ada benarnya juga, mungkin saya lebih baik pilih SMP Negeri saja yang waktu itu biayanya lebih terjangkau daripada masuk pesantren ini.

Tetapi keraguan itu lenyap saat melihat senyum di wajah teduh beliau, KH Miskun. Dengan murah hati beliau mengizinkan saya mendapat keringanan. Bahkan hal itu dibahas selintas saja, selanjutnya saya mendapat banyak nasihat berharga dari beliau untuk kehidupan di pondok kelak.

Saya tak akan melupakan sore itu.

Musik masih terdengar. Saya terus berjalan melewati bangunan yang dulunya adalah warung Bu Oyon. Di sebelah atas, berjajar asrama-asrama santri. Hari-hari itu seperti datang lagi ke dalam benak. Kejadian-kejadian unik, lucu, sedih, haru, bahagia bersama teman-teman. Saya ingat suatu hari di bulan Ramadhan. Ketika itu saya dan teman-teman sudah selesai sahur, subuh masih lama, hujan rintik-rintik. Entah siapa yang menyuruh, pokoknya beberapa saat kemudian lampu asrama besar itu sudah gelap (lampu neonnya memang mudah dicopot) kamipun terlelap dengan nikmat. Sedang enak-enak tidur tiba-tiba terdengar ketukan khas di jendela, lalu terdengarlah suara Pak Ruhan, pembina kami waktu itu. Jelas saja beliau marah, karena saat itu kami seharusnya ke masjid untuk shalat dan kuliah shubuh. Kami semua loncat dari tempat tidur, berhamburan keluar asrama, sebagian bahkan keluar lewat jendela. Kasihan sekali teman yang telat bangun, dia disuruh memasang kembali neon sambil terus dimarahi =).

Masih banyak lagi kejadian unik di asrama. Dari mulai menjahili teman yang sudah tidur dengan cara memutar jarum jam dan membangunkannya agar ia tak telat “makan sahur” padahal masih jam sepuluh malam, berebutan makanan ketika ada teman yang baru dikunjungi orang tua, sampai yang “standar”: duduk pura-pura bangun saat pembina membangunkan untuk shalat shubuh, lalu berbaring lagi saat mereka pindah ke asrama lain =). Namun, di asrama juga saya mempelajari banyak hal. Saya belajar dari teman-teman bahwa apapun status sosial dan ekonomi orang tua masing-masing, kami semua sama, punya potensi dan kesempatan yang sama. Saya juga belajar banyak bagaimana beradaptasi dengan lingkungan baru, bagaimana cara bergaul dengan orang lain, memahami keragaman sifat dan karakter. Semua itu begitu terasa manfaatnya saat saya lulus dari pondok dan hidup di dunia yang lebih luas. Semua saya dapat di asrama, termasuk persaudaraan yang erat dengan teman-teman seangkatan, bahkan sampai sekarang.

Saya berjalan lagi.

Masjid ada di sebelah kiri saya, dan kenangan kembali menyapa: shalat berjamaah (walau kadang suka telat atau bandel shalat di asrama =), tadarus, mendengar dan menyampaikan kultum, menjadi imam, mendengar curhat adik kelas, makan mie ayam di teras masjid sesudah bubar shalat magrib (enak lho mie ayamnya =p mungkin sekarang udah nggak jualan di sana, lagi, di bawah tangga masjid dekat jalan raya), hafalan Qur’an, diskusi Hisapbu, semua membekas sampai sekarang. Saya jadi tak terlalu canggung jika disuruh mengimami shalat. Walaupun sebagian sudah terlupa, saya masih punya hafalan Al-Quran. Senakal-nakalnya saya, saya masih ingat bahwa saya seorang santri, dan identitas itu saya bawa kemana-mana, sampai saat ini. Semua saya dapat di Masjid.

Selepas Masjid, saya terus ke atas, menuju asrama yang dulunya sempat jadi kelas. Lima tahun bangunan-bangunan ini menjadi tempat belajar, sebelum kami meraskan kelas baru (bangunan kelas yang sekarang) di tahun terakhir kami di DA. Lapangan rumput di tengah-tengahnya sekarang menjadi tempat jemuran. Dulu, waktu kelas satu kami sering bermain bola di sini. Pak Ridwan Sholeh, pembina kami waktu itu, menggagas liga Darqami, pertandingan antar asrama. Jum’at pagi, bola plastik, rumput yang masih basah oleh embun, dan sisanya adalah keceriaan. Saya bahkan masih ingat wangi rumputnya, teriakan teman-teman dan serunya permainan. Di ruang-ruang ini juga, ketika Aliyah, setelah selesai sekolah malam selalu ada teman-teman yang stand by  menunggu santri putri yang kebagian jadwal piket mengantar daftar absen ke kantor KBM yang memang hanya ada di komplek kelas putra (kelas putra dan putri waktu itu berjauhan, tidak berdampingan seperti sekarang). Tentu bukan absennya yang ditunggu, karena mereka juga membawa surat dari putri untuk putra. Lewat kaca nako surat-surat dipertukarkan. Begitulah lalu lintas asmara berjalan =) selain juga lewat emak-emak dapur yang berbaik hati mau dititipi surat.

Dari kelas ini juga saya belajar banyak hal. Bohong kalau saya bilang saya bisa menyerap 100% pelajaran umum dan agama yang diajarkan dari pukul lima subuh sampai setengah sembilan malam. Karena yang 100% persen itu kemudian dikurangi sekian persen nundutan, sekian persen benar-benar terlelap di kelas, sekian persen telat, sekian persen melamun, sekian persen pura-pura nulis padahal nulis puisi, curhat atau diary, sekian persen izin ke belakang padahal ke asrama, sekian persen pura-pura sakit di asrama (lalu sisanya berapa persen atuh ? =) Namun sekali lagi, banyak yang bisa dipelajari di kelas-kelas di pondok ini, termasuk mendapatkan inspirasi dari guru-guru yang hebat dan baik hati (di sekolah mana ada guru yang menunggu murid?  Di sekolah mana guru-guru tetap sabar walaupun cuma ada beberapa orang yang melek dan sisanya tidur? –kalau saya menyebut beberapa orang yang melek, itu memang secara harfiah, jadi kalau misalkan sekelas ada lima puluh orang, empat puluh orang tidur, termasuk saya =p. Walaupun tentu tidak selalu begitu, kalau lagi rajin tentu melek semua-. Cuma DA yang bisa seperti itu –kalau ingat dosa ke guru di masa lalu, kadang suka ingin nangis).

Di kelas juga saya mencoba mencerna berbagai ilmu yang dibentangkan, dan walaupun saya merasa waktu di DA tidak mendapat banyak ilmu, ternyata setelah keluar begitu terasa manfaat dari proses pembelajaran di pondok tercinta. Contoh kecil misalnya, ujian pelajaran agama yang soalnya dari pondok selalu dalam bentuk essay. Untuk saya yang kuliah sastra, latihan menulis itu begitu membantu untuk menjawab soal uraian di ujian, membuat makalah, bahkan ketika menyusun skripsi. Selain itu, jam belajar dan mata pelajaran yang banyak membuat saya mudah beradaptasi ketika kuliah. Semua saya dapat dari kelas.

Satu hal penting lain dari ruang-ruang kelas ini adalah kehidupan berorganisasi (Yang masih inget cara Pak Ruhan melafalkan kata “orkhanisasi” ngacung =). Kelas satu tsanawiyah saja, kita sudah belajar untuk mengorganisasi acara semisal cerdas cermat putra-putri. Sebagian bahkan sudah aktif di IPM (dulu IRM). Kelas tiga tsanawiyah kita sudah mendapat teori dan praktik persidangan (Sewaktu ospek kuliah, salah satu tahapan kaderisasi bagi mahasiswa baru adalah Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa –LDKM- keren nian namanya, tetapi kemudian saya diberitahu senior acaranya seperti apa, dan tidak jadi ikutan. “Latihan Sidang bari marah-marah jeung nyumputkeun palu kitu mah nggeus baheula pas kelas tilu tsanawiyah.”  Begitu kira-kira pikiran saya waktu itu, maaf ya kakak-kakak panitia, hehe…). Kelas empat kita menyelenggarakan FIKIR, kelas lima di IRM, bahkan kelas enam yang katanya harus pensiun sibuk dengan TAPANTRI. Semua memberi pelajaran berharga tentang bagaimana berdiskusi, menyampaikan pendapat, berdebat. Bagaimana menggorganisasi sebuah acara, memberi sentuhan kreatif, menyusun anggaran, dan yang lebih penting: belajar tentang kerja sama dan rasa tanggung jawab.

Saya hampir sampai ke asrama adik.

Dari jauh, terdengar lantunan nasyid. Dari cara bernyanyi dan lagunya, sepertinya itu grup Shoutu Senkusha (saya pernah melihat videonya di you tube). Tiba-tiba saya tersadar bahwa saya baru saja beberapa menit berada di sini, di DA tercinta, namun begitu banyak hal yang menyapa benak. Saya memandangi langit sejenak, menikmati bentangnya, lalu teringat sebuah pepatah leluhur saya orang minang: Alam terkembang menjadi guru. Dalam hal ini, DA adalah guru kehidupan bagi saya. Masijdnya, asramanya, kelasnya, mereka adalah guru. Teman-teman dan tentu saja para guru, pembina, pimpinan dan aparatur pondok adalah guru. Emak-emak dapur, para petugas kebersihan, semua adalah guru. Dan saya bersyukur pernah mengecap sepercik ilmu kehidupan di sini.

Malam semakin larut.

Malam terakhir di reuni akbar.

(Tulisan ini untuk semua yang pernah,  sedang dan akan hidup di Ma’had tercinta. Juga sebagai sedikit ucapan terimakasih buat panitia yang mau bersusah-susah menyelenggarakan acara ini, semoga Allah membalas kebaikan panitia semua)

 

      

bantu gempa sumatera

Untuk yang mau  menyumbang gempa Sumatera,  di bawah ini ada beberapa pihak yang insya Allah bisa menyalurkan:

Palang Merah Indonesia (PMI)

Donasi Gempa Sumatera BCA KCU Thamrin No. Rek: 206.300668.8, atas nama Kantor Pusat PMI. Dan Lewat Bank Mandiri KCU Jakarta Krakatau Steel No. Rek: 070-00-0011601-7, atas nama Palang Merah Indonesia.

Aksi Cepat Tanggap (ACT)

1. BCA # 676 030 3133

2. BNI # 014 076 5481

3. BSM # 004 011 9999

4. Muamalat # 304 0022 915

5. BNI Syariah # 009 611 0239

atas nama Aksi Cepat Tanggap

Jemput donasi dapat melalui SMS 0811824238, CARE LINE 021-741 4482. (ACT)

MER-C  Medical Emergency Rescue Committee)

BCA cab. Kwitang No. Rek. 686.0099339
BSM cab. Kramat No. Rek. 128.0011802
a.n. Medical Emergency Rescue Committee

Dan masih banyak lagi yang lainnya …

mudik

Apa yang membuat kereta dijejali orang-orang?

Apa ya? ya tentu saja karena mereka (kita) ingin pulang, ingin merayakan lebaran di rumah.

Mudik mengingatkan kita pada asal. Sebagus apapun diri kita sekarang, ia tak berdiri sendiri. Ada banyak tangan yang dulu terulur untuk membimbing kita: orang tua, saudara-saudara.

Pulang kampung juga mengingatkan kita pada akar. Mungkin kota sudah melukis kita dengan sesuatu yang berbeda. Saaatnya berkaca, membandingkan diri kita dengan lingkungan “asli” tempat kita bermula (ini tak berlaku general si…tapi mungkin cukup tepat untuk mereka yang berasal dari desa asri yang masih lengkap dengan segala kenyamanannya).

ari urang iraha mudik nya? =)