Reuni Akbar, Malam Terakhir

http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/250864_2118399560270_1254185449_32625189_5050141_n.jpg

Foto: Kang Oki Lutfi


Hampir pukul sepuluh ketika saya sampai di gerbang DA.

Saat itu malam Minggu, besok pagi agenda reuni akbar adalah penutupan. Sayangnya, karena pekerjaan, saya baru bisa datang malam itu. Beberapa jam sebelumnya saya bahkan masih ragu untuk pergi. Selepas mengajar kelas terakhir pukul setengah tujuh malam, saya berjalan pulang ke kostan di daerah Buahbatu, Bandung. Saat itu hujan cukup besar sehingga saya basah kuyup walaupun jarak dari tempat mengajar ke kostan hanya sepelemparan batu. “Rek naon ka Garut jam sakieu, hujan gede.” Sempat terlintas pikiran itu. “meningan di kostan weh, istirahat.”

Setengah jam kemudian saya berangkat.

Entah apa yang membuat saya tetap ingin berangkat. “Pokoknya harus”, saya berkata pada diri saya sendiri, “harus berangkat”. Beruntung di Cibiru masih ada Elf ke Garut, walaupun penuh dan ngetem lama. Beruntung pula di terminal Guntur saya kebagian angkot terakhir ke Sukadana, sehingga tak perlu naik ojeg dari sana. Beruntung pula beberapa pemuda di perempatan itu, yang baru saja meminta uang kepada sopir truk, tampak ramah ketika saya bilang punten. Setelah berjalan kaki sedikit, sampailah saya.

Gerbang pesantren terbuka lebar, sebuah mobil baru saja keluar. Saya berbelok ke kiri, ingin menyimpan tas dulu di asrama adik saya. Dari jauh terdengar suara musik, mungkin masih banyak orang di depan aula, tetapi di sini sepi. Sambil lalu saya melirik bangunan sederhana yang berhadapan dengan pos satpam. Saya tak tahu fungsi tempat itu sekarang, namun dulu itu adalah kantor pimpinan pondok.

Di tempat itulah saya pertama kali melihat senyum beliau, alm Pak Miskun.

Saya ingat betul, saat itu sore menjelang senja yang mendung, tahun 1999. Saya masih anak kecil yang baru saja lulus SD. Hari itu adalah hari terakhir daftar ulang santri baru dan saya adalah calon santri yang paling telat daftar ulang. Bahkan seorang petugas penerima santri baru berkata kepada Bapak sambil tertawa “Sugan teh moal janten daftarna, Pak”. Sebetulnya, saya dan Bapak berangkat dari pagi, tapi tidak bisa langsung ke Garut karena harus menemui teman-teman Bapak untuk meminjam uang. Bahkan setelah ditambah uang hasil penjualan cincin Ibu saya, uangnya masih belum cukup (saya ingat waktu itu uang daftar ulang satu juta kurang sedikit). Namun apa boleh buat, kami berangkat juga ke Garut. Karena uangnya masih kurang, panitia penerimaan santri baru meminta kami mendatangi pimpinan pondok di kantornya untuk meminta keringanan mencicil sisa pembayaran di kemudian hari.

Dari sekretariat PSB (yang sekarang jadi koperasi), kami menuju kantor beliau. Saat itu benak saya bertanya-tanya, seperti apa sosok pimpinan pesantren ini? Terlebih lagi saya bertanya pada diri sendiri, bagaimana kalau tidak diizinkan? Apakah tidak lebih baik saya ke SMP Negeri saja? Saya teringat sebagian teman-teman SD yang menyayangkan keputusan saya untuk melanjutkan pendidikan di pesantren.

“Kunaon bet asup pasantren? Leubar tah NEM bisa asup SMP anu. ” Teman saya menyebut salah satu SMPN favorit di Kota Bandung. Teman saya yang lain lebih parah lagi, menyebutkan kejelekan-kejelekan pesantren. Saat berjalan ke kantor itu saya mulai berpikir mungkin yang dikatakan teman-teman saya ada benarnya juga, mungkin saya lebih baik pilih SMP Negeri saja yang waktu itu biayanya lebih terjangkau daripada masuk pesantren ini.

Tetapi keraguan itu lenyap saat melihat senyum di wajah teduh beliau, KH Miskun. Dengan murah hati beliau mengizinkan saya mendapat keringanan. Bahkan hal itu dibahas selintas saja, selanjutnya saya mendapat banyak nasihat berharga dari beliau untuk kehidupan di pondok kelak.

Saya tak akan melupakan sore itu.

Musik masih terdengar. Saya terus berjalan melewati bangunan yang dulunya adalah warung Bu Oyon. Di sebelah atas, berjajar asrama-asrama santri. Hari-hari itu seperti datang lagi ke dalam benak. Kejadian-kejadian unik, lucu, sedih, haru, bahagia bersama teman-teman. Saya ingat suatu hari di bulan Ramadhan. Ketika itu saya dan teman-teman sudah selesai sahur, subuh masih lama, hujan rintik-rintik. Entah siapa yang menyuruh, pokoknya beberapa saat kemudian lampu asrama besar itu sudah gelap (lampu neonnya memang mudah dicopot) kamipun terlelap dengan nikmat. Sedang enak-enak tidur tiba-tiba terdengar ketukan khas di jendela, lalu terdengarlah suara Pak Ruhan, pembina kami waktu itu. Jelas saja beliau marah, karena saat itu kami seharusnya ke masjid untuk shalat dan kuliah shubuh. Kami semua loncat dari tempat tidur, berhamburan keluar asrama, sebagian bahkan keluar lewat jendela. Kasihan sekali teman yang telat bangun, dia disuruh memasang kembali neon sambil terus dimarahi =).

Masih banyak lagi kejadian unik di asrama. Dari mulai menjahili teman yang sudah tidur dengan cara memutar jarum jam dan membangunkannya agar ia tak telat “makan sahur” padahal masih jam sepuluh malam, berebutan makanan ketika ada teman yang baru dikunjungi orang tua, sampai yang “standar”: duduk pura-pura bangun saat pembina membangunkan untuk shalat shubuh, lalu berbaring lagi saat mereka pindah ke asrama lain =). Namun, di asrama juga saya mempelajari banyak hal. Saya belajar dari teman-teman bahwa apapun status sosial dan ekonomi orang tua masing-masing, kami semua sama, punya potensi dan kesempatan yang sama. Saya juga belajar banyak bagaimana beradaptasi dengan lingkungan baru, bagaimana cara bergaul dengan orang lain, memahami keragaman sifat dan karakter. Semua itu begitu terasa manfaatnya saat saya lulus dari pondok dan hidup di dunia yang lebih luas. Semua saya dapat di asrama, termasuk persaudaraan yang erat dengan teman-teman seangkatan, bahkan sampai sekarang.

Saya berjalan lagi.

Masjid ada di sebelah kiri saya, dan kenangan kembali menyapa: shalat berjamaah (walau kadang suka telat atau bandel shalat di asrama =), tadarus, mendengar dan menyampaikan kultum, menjadi imam, mendengar curhat adik kelas, makan mie ayam di teras masjid sesudah bubar shalat magrib (enak lho mie ayamnya =p mungkin sekarang udah nggak jualan di sana, lagi, di bawah tangga masjid dekat jalan raya), hafalan Qur’an, diskusi Hisapbu, semua membekas sampai sekarang. Saya jadi tak terlalu canggung jika disuruh mengimami shalat. Walaupun sebagian sudah terlupa, saya masih punya hafalan Al-Quran. Senakal-nakalnya saya, saya masih ingat bahwa saya seorang santri, dan identitas itu saya bawa kemana-mana, sampai saat ini. Semua saya dapat di Masjid.

Selepas Masjid, saya terus ke atas, menuju asrama yang dulunya sempat jadi kelas. Lima tahun bangunan-bangunan ini menjadi tempat belajar, sebelum kami meraskan kelas baru (bangunan kelas yang sekarang) di tahun terakhir kami di DA. Lapangan rumput di tengah-tengahnya sekarang menjadi tempat jemuran. Dulu, waktu kelas satu kami sering bermain bola di sini. Pak Ridwan Sholeh, pembina kami waktu itu, menggagas liga Darqami, pertandingan antar asrama. Jum’at pagi, bola plastik, rumput yang masih basah oleh embun, dan sisanya adalah keceriaan. Saya bahkan masih ingat wangi rumputnya, teriakan teman-teman dan serunya permainan. Di ruang-ruang ini juga, ketika Aliyah, setelah selesai sekolah malam selalu ada teman-teman yang stand by  menunggu santri putri yang kebagian jadwal piket mengantar daftar absen ke kantor KBM yang memang hanya ada di komplek kelas putra (kelas putra dan putri waktu itu berjauhan, tidak berdampingan seperti sekarang). Tentu bukan absennya yang ditunggu, karena mereka juga membawa surat dari putri untuk putra. Lewat kaca nako surat-surat dipertukarkan. Begitulah lalu lintas asmara berjalan =) selain juga lewat emak-emak dapur yang berbaik hati mau dititipi surat.

Dari kelas ini juga saya belajar banyak hal. Bohong kalau saya bilang saya bisa menyerap 100% pelajaran umum dan agama yang diajarkan dari pukul lima subuh sampai setengah sembilan malam. Karena yang 100% persen itu kemudian dikurangi sekian persen nundutan, sekian persen benar-benar terlelap di kelas, sekian persen telat, sekian persen melamun, sekian persen pura-pura nulis padahal nulis puisi, curhat atau diary, sekian persen izin ke belakang padahal ke asrama, sekian persen pura-pura sakit di asrama (lalu sisanya berapa persen atuh ? =) Namun sekali lagi, banyak yang bisa dipelajari di kelas-kelas di pondok ini, termasuk mendapatkan inspirasi dari guru-guru yang hebat dan baik hati (di sekolah mana ada guru yang menunggu murid?  Di sekolah mana guru-guru tetap sabar walaupun cuma ada beberapa orang yang melek dan sisanya tidur? –kalau saya menyebut beberapa orang yang melek, itu memang secara harfiah, jadi kalau misalkan sekelas ada lima puluh orang, empat puluh orang tidur, termasuk saya =p. Walaupun tentu tidak selalu begitu, kalau lagi rajin tentu melek semua-. Cuma DA yang bisa seperti itu –kalau ingat dosa ke guru di masa lalu, kadang suka ingin nangis).

Di kelas juga saya mencoba mencerna berbagai ilmu yang dibentangkan, dan walaupun saya merasa waktu di DA tidak mendapat banyak ilmu, ternyata setelah keluar begitu terasa manfaat dari proses pembelajaran di pondok tercinta. Contoh kecil misalnya, ujian pelajaran agama yang soalnya dari pondok selalu dalam bentuk essay. Untuk saya yang kuliah sastra, latihan menulis itu begitu membantu untuk menjawab soal uraian di ujian, membuat makalah, bahkan ketika menyusun skripsi. Selain itu, jam belajar dan mata pelajaran yang banyak membuat saya mudah beradaptasi ketika kuliah. Semua saya dapat dari kelas.

Satu hal penting lain dari ruang-ruang kelas ini adalah kehidupan berorganisasi (Yang masih inget cara Pak Ruhan melafalkan kata “orkhanisasi” ngacung =). Kelas satu tsanawiyah saja, kita sudah belajar untuk mengorganisasi acara semisal cerdas cermat putra-putri. Sebagian bahkan sudah aktif di IPM (dulu IRM). Kelas tiga tsanawiyah kita sudah mendapat teori dan praktik persidangan (Sewaktu ospek kuliah, salah satu tahapan kaderisasi bagi mahasiswa baru adalah Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa –LDKM- keren nian namanya, tetapi kemudian saya diberitahu senior acaranya seperti apa, dan tidak jadi ikutan. “Latihan Sidang bari marah-marah jeung nyumputkeun palu kitu mah nggeus baheula pas kelas tilu tsanawiyah.”  Begitu kira-kira pikiran saya waktu itu, maaf ya kakak-kakak panitia, hehe…). Kelas empat kita menyelenggarakan FIKIR, kelas lima di IRM, bahkan kelas enam yang katanya harus pensiun sibuk dengan TAPANTRI. Semua memberi pelajaran berharga tentang bagaimana berdiskusi, menyampaikan pendapat, berdebat. Bagaimana menggorganisasi sebuah acara, memberi sentuhan kreatif, menyusun anggaran, dan yang lebih penting: belajar tentang kerja sama dan rasa tanggung jawab.

Saya hampir sampai ke asrama adik.

Dari jauh, terdengar lantunan nasyid. Dari cara bernyanyi dan lagunya, sepertinya itu grup Shoutu Senkusha (saya pernah melihat videonya di you tube). Tiba-tiba saya tersadar bahwa saya baru saja beberapa menit berada di sini, di DA tercinta, namun begitu banyak hal yang menyapa benak. Saya memandangi langit sejenak, menikmati bentangnya, lalu teringat sebuah pepatah leluhur saya orang minang: Alam terkembang menjadi guru. Dalam hal ini, DA adalah guru kehidupan bagi saya. Masijdnya, asramanya, kelasnya, mereka adalah guru. Teman-teman dan tentu saja para guru, pembina, pimpinan dan aparatur pondok adalah guru. Emak-emak dapur, para petugas kebersihan, semua adalah guru. Dan saya bersyukur pernah mengecap sepercik ilmu kehidupan di sini.

Malam semakin larut.

Malam terakhir di reuni akbar.

(Tulisan ini untuk semua yang pernah,  sedang dan akan hidup di Ma’had tercinta. Juga sebagai sedikit ucapan terimakasih buat panitia yang mau bersusah-susah menyelenggarakan acara ini, semoga Allah membalas kebaikan panitia semua)

 

      

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s